Ketika saya merasa 'berat' dalam diri saya saat menimpa masalah yang kuterima, tapi semua ini yang sudah kulakukan padanya. Justru itu, GAGAL pula. Karena, saya terlalu banyak 'janji' yang tak ku tepati.
Kurasa masalah itu sangat mengurung hidup saya, aku berpikir bahwa hidup itu telah terbawa olehnya. Hidupku penuh derita, susah dan HANCUR. Namun itu, luar dugaanku tidak seperti itu bahkan hidupku akan mengubah yang lebih 'BESAR'. Tapi sebenarnya saya itu lebih banyak memberikannya dengan penjelasanku kepadanya secara detail tapi singkat. Supaya itu bisa membuat mereka berpikir dengan penjelasanku, seolah itu akan mendewasakan dengan segala hal. Ternyata, mereka tidak berpikir hal itu malah membentakku. Dalam hati saya "lebih baik seribu bahasa saja, daripada saya memberinya penjelasanku ke mereka sebaliknya mereka membentakku". Rasanya sedih sudah, takkan kebahagiaan yang ada dalam diriku. Kebahagiaan hanyalah semu.
Posisi saya ada yang mevisualkan hati yang berbicara, hati saya berbicara "mintalah bantuan sedikitpun agar bisa menenangkan hati saya dan hidup saya. Bantuan itu hanya bisa engkau bertindak dan berpikir yang lebih tahu dengan kebenaran yang ada dalam diri sendiri. Ketahuilah yang sebenarnya, maka engkau akan bergerak". Akhirnya saya memutuskan untuk meminta bantuan hanya sementara, aku memilih seorang yang tepat yang kupercaya. Dan, sedang mencari seorang yang tepat bagiku. 5 menit, saya ketemu seorang yang kupercaya, sebutkan saja nama samaran TAK. Memulai pembicaraan melalui hp kita masing-masing dari saya untuk mengirim SMS kepadanya.
Dengarkanlah yang ini :
Saya sedang mengontaknya dan mengetik di hp saya..
"Kamu dimana skg?" tanyaku padanya sepertinya menunggu kabar darinya.
"Ya dirumah, ada apa?" tanyanya sebaliknya yang merasakan yang ada mau ngomong.
"Ini aku harus bagaimana dengannya (nya itu berinsial W)? Bukan masalah kecil tapi masalah besar begitu loh" nadaku seperti butuh bantuan sedikitpun.
"Ea Ampun,, barangkali yang sudah menasihatimu dengan cara kebaiknya padaku, tapi kenapa begini?" tanyanya sepertinya sudah tidak suka sikapku dikira saya itu terlalu cerewet padahal tidak.
"Iya tahu, saya sudah memikirkan hal itu. Kamu tahu orang (berinsial N) itu kok bilang tidak bener dengannya, apalagi siapa mau menurutinya bahkan pengertian mereka kok sampai gituan. Malah aku dipojokkan oleh mereka, tapi kenapa dia memberiku sebuah saran, entah dia kok suka menunjukkan kesalahanku bahkan dia belum bisa berpikir malah berpikir saja saya punya salah?" penuh ceritaku sungguh2 marah, kala itu pertanyaanku makin gusar..
"Ya bener. Jika dia menasihatimu kamu beberapa kali maka kamu harus diam sambil berpikir, jangan menyerah diri Anda sendiri. Kamu harus berusaha sekuat tenaga saat kamu menerima masalah yang kau terima." kata TAK yang mau mendengarkanku melalui ceritaku. Dia sepertinya mau menyakinkan hati saya agar bisa mampu bertahan dengan masalah ini.
"Iya makasih, mungkin pemahamannya kurang baik. Aku tadi udah minta maaf padanya tapi sayangnya udah marah kaya gini gara-gara saya yang mengingkarinya 'janji' padanya. Entah, apa semacam orang itu?" tanyaku penuh rasa menyesal. Apapun yang terjadi, tentunya ada penuh resiko.
"Iya, sama2. Sudahlah, pokoknya kamu jangan bilang 'janji' pada siapapun yang mengingat sebuah janji. Lebih baik bilang 'lihat saja' supaya tidak ada yang bawa malapetaka. Iya aku tahu, tapi teman yang lain yang ikut-ikutan, kamu yang tahu?" tanyanya padaku tandanya memberiku bukti yang sudah terjadi.
"Iya pernah melihat, ini hanya bicara bagaimana bukan masalah bagimu melainkan butuh bantuan sedikitpun. Begitu deh. Maafkan aku ya, aku telah mengingkarinya. Aku tahu malapetaka itu belum terselesaikan . Sabar, pasti ada jalan keluar untukku. Tapi, kenapa ya saya disalahkan olehnya padahal sudah memberinya penjelasan padanya? Penjelasanku ke padanya agar bisa berpikir dengan cara yang mendewasakan. Ternyata tidak begitu juga." kataku penuh sedih.
"Iya bener, mungkin belum bisa berpikir dengan cara yang benar. Lha itu, pikirannya memang berbeda denganmu. Tapi itu 'ANEH'." celetuknya. Kurasa dia sudah tahu semua pernah dia lihat.
"Oke ganteng haha, satu kata 'ANEH' bagi yang belum bisa berpikir dengan cara yang mendewasakannya." kataku dalam pikiranku memang gituan.
"Nanti Tuhan akan bulatkan nasibnya jika dia masih begini terus. Biarkanlah Tuhan memberinya kesempatan terakhir padanya, Tuhan hanya bisa menyalurkan isi pikiranku dan hatiku juga. Itu saja. :)" kataku penuh doa..
"Iya deh, sipzt ;), Tapi. ingat jangan suka membicarakan yang ga baik, berusahalah menjadi diri sendiri yang baik. Semoga Tuhan mengabulkan doa itu." :). katanya penuh harap.
Terakhir ini, aku sudah lega saat mendapatkan bantuan. Namun itu, sudah cukup bagiku. Ini mulai bergerak nih. Thanks buat dia yang telah menenangkanku dan memberiku sabar sedikitpun. :). Saya memilih dan mengambil buah buruk. Saya rela mengambil itu, resiko itu akan mengubah diri sendiri yang sebenarnya.
Saya percaya Tuhan hanya menguji resiko dan gagal padaku, agar saya bisa melakukan dan berpikir yang cara yang mendewasakan. Jujur saja, saya terlalu banyak dari itu dan betapa itu sulit yang ku selesaikan tapi ada cara yang ku bisa lakukan.
Walau aku memilih teman yang memiliki yang buruk atau baik, aku tidak peduli itu. Aku bangga bisa menilai kepribadian yang berbeda, berkarakter yang berbeda, prinsip yang berbeda dan masih banyak.
Maaf ini hanya luang waktu buat mengeluarkan isi curhat saya dan TAK.. :)
"Tak ada yang punya teman musuh untukku, tetapi saya bangga memiliki teman yang saya temui." By IndiraBarus. :).
Kurasa masalah itu sangat mengurung hidup saya, aku berpikir bahwa hidup itu telah terbawa olehnya. Hidupku penuh derita, susah dan HANCUR. Namun itu, luar dugaanku tidak seperti itu bahkan hidupku akan mengubah yang lebih 'BESAR'. Tapi sebenarnya saya itu lebih banyak memberikannya dengan penjelasanku kepadanya secara detail tapi singkat. Supaya itu bisa membuat mereka berpikir dengan penjelasanku, seolah itu akan mendewasakan dengan segala hal. Ternyata, mereka tidak berpikir hal itu malah membentakku. Dalam hati saya "lebih baik seribu bahasa saja, daripada saya memberinya penjelasanku ke mereka sebaliknya mereka membentakku". Rasanya sedih sudah, takkan kebahagiaan yang ada dalam diriku. Kebahagiaan hanyalah semu.
Posisi saya ada yang mevisualkan hati yang berbicara, hati saya berbicara "mintalah bantuan sedikitpun agar bisa menenangkan hati saya dan hidup saya. Bantuan itu hanya bisa engkau bertindak dan berpikir yang lebih tahu dengan kebenaran yang ada dalam diri sendiri. Ketahuilah yang sebenarnya, maka engkau akan bergerak". Akhirnya saya memutuskan untuk meminta bantuan hanya sementara, aku memilih seorang yang tepat yang kupercaya. Dan, sedang mencari seorang yang tepat bagiku. 5 menit, saya ketemu seorang yang kupercaya, sebutkan saja nama samaran TAK. Memulai pembicaraan melalui hp kita masing-masing dari saya untuk mengirim SMS kepadanya.
Dengarkanlah yang ini :
Saya sedang mengontaknya dan mengetik di hp saya..
"Kamu dimana skg?" tanyaku padanya sepertinya menunggu kabar darinya.
"Ya dirumah, ada apa?" tanyanya sebaliknya yang merasakan yang ada mau ngomong.
"Ini aku harus bagaimana dengannya (nya itu berinsial W)? Bukan masalah kecil tapi masalah besar begitu loh" nadaku seperti butuh bantuan sedikitpun.
"Ea Ampun,, barangkali yang sudah menasihatimu dengan cara kebaiknya padaku, tapi kenapa begini?" tanyanya sepertinya sudah tidak suka sikapku dikira saya itu terlalu cerewet padahal tidak.
"Iya tahu, saya sudah memikirkan hal itu. Kamu tahu orang (berinsial N) itu kok bilang tidak bener dengannya, apalagi siapa mau menurutinya bahkan pengertian mereka kok sampai gituan. Malah aku dipojokkan oleh mereka, tapi kenapa dia memberiku sebuah saran, entah dia kok suka menunjukkan kesalahanku bahkan dia belum bisa berpikir malah berpikir saja saya punya salah?" penuh ceritaku sungguh2 marah, kala itu pertanyaanku makin gusar..
"Ya bener. Jika dia menasihatimu kamu beberapa kali maka kamu harus diam sambil berpikir, jangan menyerah diri Anda sendiri. Kamu harus berusaha sekuat tenaga saat kamu menerima masalah yang kau terima." kata TAK yang mau mendengarkanku melalui ceritaku. Dia sepertinya mau menyakinkan hati saya agar bisa mampu bertahan dengan masalah ini.
"Iya makasih, mungkin pemahamannya kurang baik. Aku tadi udah minta maaf padanya tapi sayangnya udah marah kaya gini gara-gara saya yang mengingkarinya 'janji' padanya. Entah, apa semacam orang itu?" tanyaku penuh rasa menyesal. Apapun yang terjadi, tentunya ada penuh resiko.
"Iya, sama2. Sudahlah, pokoknya kamu jangan bilang 'janji' pada siapapun yang mengingat sebuah janji. Lebih baik bilang 'lihat saja' supaya tidak ada yang bawa malapetaka. Iya aku tahu, tapi teman yang lain yang ikut-ikutan, kamu yang tahu?" tanyanya padaku tandanya memberiku bukti yang sudah terjadi.
"Iya pernah melihat, ini hanya bicara bagaimana bukan masalah bagimu melainkan butuh bantuan sedikitpun. Begitu deh. Maafkan aku ya, aku telah mengingkarinya. Aku tahu malapetaka itu belum terselesaikan . Sabar, pasti ada jalan keluar untukku. Tapi, kenapa ya saya disalahkan olehnya padahal sudah memberinya penjelasan padanya? Penjelasanku ke padanya agar bisa berpikir dengan cara yang mendewasakan. Ternyata tidak begitu juga." kataku penuh sedih.
"Iya bener, mungkin belum bisa berpikir dengan cara yang benar. Lha itu, pikirannya memang berbeda denganmu. Tapi itu 'ANEH'." celetuknya. Kurasa dia sudah tahu semua pernah dia lihat.
"Oke ganteng haha, satu kata 'ANEH' bagi yang belum bisa berpikir dengan cara yang mendewasakannya." kataku dalam pikiranku memang gituan.
"Nanti Tuhan akan bulatkan nasibnya jika dia masih begini terus. Biarkanlah Tuhan memberinya kesempatan terakhir padanya, Tuhan hanya bisa menyalurkan isi pikiranku dan hatiku juga. Itu saja. :)" kataku penuh doa..
"Iya deh, sipzt ;), Tapi. ingat jangan suka membicarakan yang ga baik, berusahalah menjadi diri sendiri yang baik. Semoga Tuhan mengabulkan doa itu." :). katanya penuh harap.
Terakhir ini, aku sudah lega saat mendapatkan bantuan. Namun itu, sudah cukup bagiku. Ini mulai bergerak nih. Thanks buat dia yang telah menenangkanku dan memberiku sabar sedikitpun. :). Saya memilih dan mengambil buah buruk. Saya rela mengambil itu, resiko itu akan mengubah diri sendiri yang sebenarnya.
Saya percaya Tuhan hanya menguji resiko dan gagal padaku, agar saya bisa melakukan dan berpikir yang cara yang mendewasakan. Jujur saja, saya terlalu banyak dari itu dan betapa itu sulit yang ku selesaikan tapi ada cara yang ku bisa lakukan.
Walau aku memilih teman yang memiliki yang buruk atau baik, aku tidak peduli itu. Aku bangga bisa menilai kepribadian yang berbeda, berkarakter yang berbeda, prinsip yang berbeda dan masih banyak.
Maaf ini hanya luang waktu buat mengeluarkan isi curhat saya dan TAK.. :)
"Tak ada yang punya teman musuh untukku, tetapi saya bangga memiliki teman yang saya temui." By IndiraBarus. :).
Komentar
Posting Komentar